MEREKA LEBIH BAIK!!! BAGAIMANA DENGAN AKU?
HI AKU YOGA.
Pernah gak sih, kita ngerasa kecil di tengah lautan manusia? Kayak dunia ini penuh sama orang-orang yang lebih unggul—lebih cantik, lebih kaya, lebih berbakat, lebih beruntung. Sementara kita? Cuma sekadar ada, berdiri di pinggir jalan, melihat mereka melesat jauh.
Dunia bergerak cepat, orang-orang berlomba, dan kadang kita merasa tertinggal. Kita melihat ke kanan, ke kiri, seolah mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa kita juga berharga. Tapi yang kita lihat justru bayangan orang lain yang lebih bersinar. Rasanya seperti berada di tengah keramaian tapi tetap sendirian.
Tapi pernahkah kita sadar, bahwa bahkan orang yang terlihat bersinar juga pernah merasa redup? Setiap orang menyimpan luka tak bersuara, hanya senyum terpampang seperti tak punya derita. Namun ia punya, bahkan bisa saja lukanya sudah membusuk sejak lama. Karena dunia ini penuh topeng, dan kita semua terkadang memilih untuk memakainya.
Ada yang pura-pura bahagia, padahal hatinya kosong. Ada yang terlihat kuat, padahal tiap malam menangis sendirian. Ada yang tampak sempurna, padahal penuh ketakutan. Maka, kenapa kita harus merasa kecil di hadapan mereka? Kita hanya melihat dari luar, tanpa tahu apa yang mereka simpan di dalam.
Pernah berdiri di depan cermin? Kita melihat diri sendiri, jelas dan nyata. Tapi pernahkah memperhatikan bayangan? Ia selalu ada, mengikuti kita, melekat di setiap langkah. Kadang lebih besar, kadang lebih kecil, tergantung dari mana cahaya datang.
Orang yang kita anggap lebih baik mungkin seperti cahaya yang membuat kita merasa sekadar bayangan. Tapi bukankah bayangan juga bukti bahwa kita nyata? Bahwa kita tetap ada, meskipun mungkin tak selalu terlihat?
Bayangan tak pernah menghilang, ia hanya berubah bentuk. Sama seperti kita. Kadang kita merasa kecil, kadang kita merasa besar. Tapi sekecil apa pun bayangan, ia tetap bagian dari kita.
Hidup bukan tentang siapa yang lebih terang, tapi tentang bagaimana kita tetap bertahan, bahkan dalam kegelapan. Kita tidak selalu harus bersinar seperti matahari. Kadang, cukup menjadi bintang kecil yang tetap bercahaya di tengah malam.
Hidup ini seperti lomba yang tak punya garis finish. Kita berlari, orang lain berlari, tapi tujuannya berbeda-beda. Ada yang berlari mengejar mimpi, ada yang berlari dari masa lalu, ada yang hanya berlari agar tidak tertinggal.
Tapi kalau lombanya gak punya garis finish, siapa pemenangnya?
Gak ada. Karena yang penting bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling bertahan. Bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi tentang siapa yang terus mencoba.
Kita bukan pelari yang harus sampai duluan. Kita adalah pejalan yang berhak menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Apa gunanya tiba di garis akhir kalau selama perjalanan kita lupa melihat langit, lupa menikmati angin, lupa merasakan detik yang berlalu?
Kadang kita sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu milik kita, padahal yang kita punya saat ini sudah cukup berharga. Jangan habiskan hidup hanya untuk berlari, sesekali berhenti, tarik napas, lihat sekeliling, dan sadar bahwa kita sudah berjalan jauh.
Pernahkah terpikir kalau orang yang kita anggap lebih baik pun menyimpan luka? Mungkin dia juga merasa gak cukup baik dibanding orang lain. Mungkin dia juga pernah menangis di tempat yang gak ada siapa-siapa.
Karena luka itu tidak selalu terlihat. Ada luka yang disembunyikan di balik tawa, ada air mata yang tak pernah jatuh di depan orang lain. Dan ada perasaan sakit yang tak bisa diceritakan, hanya dirasakan sendirian.
Kita semua punya bekas luka, tapi bukan berarti kita kalah. Luka adalah bukti bahwa kita pernah bertarung, bahwa kita pernah mencoba.
Jangan takut menjadi seseorang yang punya luka, karena setiap luka punya cerita. Dan cerita itu yang membuat kita berbeda, membuat kita unik.
Orang yang terlihat kuat bukan berarti tak pernah rapuh. Ia hanya memilih untuk tetap berdiri, meski hatinya penuh retakan. Dan kita pun bisa seperti itu—bukan tanpa rasa sakit, tapi tetap melangkah meski kaki gemetar.
Maka, kenapa harus sibuk membandingkan? Luka kita mungkin tak terlihat, tapi bukan berarti kita tidak berharga. Medali paling berharga bukan yang tergantung di leher, tapi yang ada di hati: penghargaan dari diri sendiri.
Pada akhirnya, selalu ada orang yang lebih baik. Tapi itu bukan alasan untuk merasa tidak cukup. Itu bukan bukti bahwa kita gagal. Itu hanyalah cara semesta mengatakan:
"Hei, lihat, ada banyak jenis kebaikan di dunia ini. Kamu salah satunya."
Kita gak harus lebih baik dari orang lain, kita hanya perlu menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.
Daripada sibuk melihat siapa yang lebih baik, kenapa tidak sibuk menjadi lebih baik untuk diri sendiri? Karena kita tidak harus jadi yang terbaik di mata dunia, cukup menjadi seseorang yang bisa berkata,
"Aku bangga sama diriku sendiri."
Komentar
Posting Komentar