PENERIMAAN
Hai aku yoga.
Sepertinya sudah cukup lama aku tidak muncul dalam rangkaian tulisan, seperti lenyap di telan bumi tanpa kabar, ya untuk pembaca tulisanku di blog ini, aku cuma bisa beralasan bahwa aku sedang bertarung dengan banyak kenyataan dan keadaan, diriku sendiri masih baik baik saja " sepertinya ".
Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan tapi akan jadi beberapa bentuk tulisan, gak langsung aku tulis di halaman ini, dan hal itu adalah tentang penerimaan, konsep dalam kehidupan yang cukup penting aku rasa, karena memegang banyak kendali untuk hal hal yang tak terduga, yahhh hidup adalah kejutan bukan. Tapi kali ini aku akan membahas penerimaan dengan lebih kompleks dan dari beberapa sisi. Sebelum kita menerima keadaan dunia yang begitu lucu dan tak terduga, terlebih dahulu kita harus menerima bentuk dan keadaan diri kita sendiri, semua berasal dari kita sebab sepahit apa pun keadaan dunia, jika kita mampu bersikap sabar dan ikhlas ya semua akan jadi baik baik saja, Menurutku lucu jika kita sebagai manusia selalu berharap orang lain menerima bentuk yang kita punya, entah itu tempramental, egois, clingy, posesif, childish dan yang lain nya, sedang diri sendiri saja tidak pernah mau mencoba menerima orang lain dengan bentuk mereka, maksudku apa yang kau harapkan dari sesuatu yang kau sendiri saja tidak mampu lakukan untuk diri sendiri, kejam sekali bukan ketika kau memaksakan orang lain untuk memenuhi rasa hausmu atas sesuatu yang kau sendiri terlalu takut untuk mencoba, dan hal ini sering sekali terjadi dalam prihal percintaan.
Penerimaan diri atau self acceptance adalah suatu kondisi dan sikap positif individu dalam bentuk penghargaan terhadap diri, menerima segala kelebihan dan kekurangan, mengetahui kemampuan dan kelemahan, tidak menyalahkan diri sendiri maupun orang lain dan berusaha sebaik mungkin agar dapat berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Penerimaan diri berhubungan dengan konsep diri yang positif, dimana dengan konsep diri yang positif, seseorang dapat menerima dan memahami fakta-fakta yang begitu berbeda dengan dirinya. Seseorang yang menerima dirinya memiliki penilaian realistis terhadap sumber daya yang dimiliki yang kemudian dikombinasikan dengan penghargaan atas dirinya sendiri, yakin akan standar dan diri sendiri tanpa harus dikendalikan oleh orang lain dan memiliki penilaian realistis mengenai keterbatasan tanpa harus mencela diri sendiri.
Menurut Cronbach penerimaan diri adalah sejauh mana individu dapat menyadari, memahami karakteristik yang ada pada dirinya dan menggunakannya dalam menjalani kelangsungan hidup. Sikap penerimaan diri ini ditunjukkan dengan mengakui kelebihan-kelebihan serta menerima kelemahan-kelemahannya yang ada pada dirinya tanpa menyalahkan orang lain dan mempunyai keinginan yang terus untuk mengembangkan diri.
Setelah kita mulai mampu menerima bentuk yang kita punya, tentu banyak hal juga berubah seperti,
Persepsi mengenai diri dan sikap terhadap penampilan. Individu yang memiliki penerimaan diri berpikir lebih realistis tentang penampilan dan bagaimana ia terlihat dalam pandangan orang lain.
Sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan orang lain. Individu yang memiliki penerimaan diri memandang kelemahan dan kekuatan dalam dirinya, lebih baik dari pada individu yang tidak memiliki penerimaan diri.
Perasaan inferioritas sebagai gejala penolakan diri. Seseorang individu yang terkadang merasakan inferioritas atau disebut dengan infiriority complex adalah seseorang individu yang tidak memiliki sikap penerimaan diri dan hal tersebut akan menunggu penilaian yang realistis atas dirinya.
Respon atas penolakan dan kritikan. Individu yang memiliki penerimaan diri tidak menyukai kritikan, namun demikian ia mempunyai kemampuan untuk menerima kritikan bahkan dapat mengambil hikmah dari kritikan tersebut.
Keseimbangan antara real self dan ideal self. Individu yang memiliki penerimaan diri mempertahankan harapan dan tuntutan dari dalam dirinya dengan baik dalam batas-batas kemungkinan dapat diraih.
Penerimaan diri dan penerimaan orang lain. Hal ini berarti apabila seorang individu menyayangi dirinya, dan mampu menerima segala kekuatan dan kekurangan diri, maka akan lebih memungkinkan baginya untuk menyayangi orang lain dan menerima orang lain dengan baik.
Menuruti kehendak dan menonjolkan diri. Apabila seorang individu menerima dirinya, hal tersebut bukan berarti ia memanjakan dirinya, akan tetapi ia akan menerima bahkan menuntut kelayakan dalam kehidupannya dan tidak akan mengambil yang bukan haknya, individu dengan penerimaan diri menghargai harapan orang lain dan meresponnya dengan bijak.
Spontanitas dan menikmati hidup. Individu dengan penerimaan diri mempunyai lebih banyak keleluasaan untuk menikmati hal-hal dalam hidupnya. Individu tersebut tidak hanya leluasa menikmati sesuatu yang dilakukannya, akan tetapi juga leluasa untuk menolak atau menghindari sesuatu yang tidak ingin dilakukannya.
Aspek moral penerimaan diri. Individu dengan penerimaan diri bukanlah individu yang berbudi baik dan bukan pula individu yang tidak mengenal moral, tetapi memiliki fleksibilitas dalam pengaturan hidupnya.
Sikap terhadap penerimaan diri. Individu yang dapat menerima hidupnya akan menunjukkan sikap menerima apapun kekurangan yang dimilikinya tanpa harus malu ketika berada di lingkungan sosialnya.
Penerimaan diri bukan berarti kita hanya menerima yang sudah ada pada diri kita dan tidak melakukan pengembangan apapun pada diri kita. Menurut seorang ahli, penerimaan diri (self acceptance) merupakan keadaan di mana seorang individu memiliki penilaian positif maupun negatif terhadap diri sendiri, menerima serta mengakui segala kelebihan maupun segala keterbatasan yang ada dalam diri, tanpa merasa malu atau merasa bersalah terhadap kodrat diri sendiri.
Mengapa menerima diri sendiri itu penting bagi kesehatan mental kita? Menerima diri sendiri penting karena mampu membuat kebahagiaan terhadap diri kita sendiri. Setelah kita mampu menerima diri kita sendiri, kita akan lebih mengenal dan membuat kita mencintai diri sendiri. Menerima diri sendiri perlu dilakukan secara sadar agar kita menerima diri kita secara seutuhnya.
Kita harus menyadari bahwa tidak ada yang sempurna. Seperti yang dikatakan oleh Carl Gustav Jung:
"Kita tidak bisa mengubah apapun kecuali kita sudah menerimanya."
Jadi sebelum kita ingin mengubah pribadi kita menjadi lebih baik dan lebih berkualitas, kita harus menyadari dan menerima apa kekurangan dari diri kita yang sebenarnya mampu kita perbaiki.
Secara aktif mengamati perbedaan baru. Dengan mengamati perbedaan baru yang terjadi di sekitar kita secara aktif, mampu membuat kita menjadi lebih mudah untuk mengeksplorasi aspek-aspek diri yang sebelumnya disembunyikan atau dihindari. Eksplorasi aktif bebas dari penilaian sebagai individu terus aktif mengeksplorasi aspek-aspek baru dari diri, mereka akan meningkatkan penerimaan diri.
Menerapkan pola pikir berkembang atau growth mindset. Jika seseorang mulai menerapkan growth mindset, kata-kata yang terucap pun menjadi kata-kata kemungkinan yang positif. Dengan menerapkan growth mindset, kita akan lebih bisa menerima kesalahan yang telah kita lakukan dan segera memperbaikinya agar tidak terjadi lagi. Ini menciptakan pola pikir yang terbuka untuk perubahan dan penerimaan pribadi.
Untuk bisa menciptakan bahagia, kita bisa memulai dengan berhenti memaksa semua orang untuk menyukai kita. Memaksakan sesuatu terkadang malah bisa membuat hati kita kecewa sendiri. Pastinya juga kita yang bakal cape sendiri kalau yang kita pikirkan hanyalah cara agar semua orang menyukai setiap hal yang kita lakukan. Rasanya tak mungkin segalanya akan selalu berjalan indah dan baik-baik saja. Pasti ada saja kerikil dan ujian yang harus kita hadapi. Tapi dengan melewati dan mengatasi semua ujian itu, kita bakal merasakan nikmatnya keberhasilan dan kebahagiaan. Bagaimana pun kita bakal butuh hujan untuk bisa mendapat pelangi. Kita butuh gelap untuk bisa menikmati indahnya hamparan bintang. Omongan dan tuntutan orang gak akan pernah habisnya. Mungkin kamu juga akan terus dibuat capek dengan semua hal yang dibicarakan orang tentangmu. Tapi jangan sampai semua itu membuat hatimu sakit. Tetap ciptakan bahagiamu dengan fokus pada hal-hal terbaik yang bisa kamu lakukan.
lepaskan yang Menyakiti, Perjuangkan yang Menyayangi
Akan ada orang-orang yang menyakiti dan membenci. Tapi juga pastinya akan ada orang yang akan selalu menyayangi dan berada di sisi. Tinggal bagaimana cara kita untuk menyikapi itu semua. Dan salah satu cara terbaik untuk bahagia di kondisi ini adalah melepaskan yang menyakiti dan memperjuangkan mereka yang sudah terbukti tulus menyayangi. Kita punya cara sendiri untuk bahagia. Selalu ada jalan yang bisa kita ambil untuk kebaikan kita. Kalau kamu bisa membuat banyak orang menyukaimu dengan kebaikan yang kamu lakukan, bersyukurlah. Tapi kalaupun tak semua orang bisa menyukai dan menghargaimu, tetaplah bersyukur. Karena bersyukur merupakan cara termudah untuk mendapat berkah dari semua yang kita lakukan.
Dalam konsep penerimaan ini ada satu kalimat dari Habib umar bin hafidz yang menurutku bagus banget, beliau bilang gini " Sesulit apa pun keadaanmu, ajarilah hatimu agar bisa menerima keadaan tanpa membenci ". Dan dari kalimat itu aku jadi paham bahwa sebagai manusia sudah seharusnya kita menerima semua hal yang terjadi, sebab semakin kita ikhlas, kita akan semakin tenang, coba untuk lebih berlapang dada, hal yang baik untuk kita belum tentu benar benar baik, dan hal yang gak baik menurut kita bisa saja adalah yang terbaik.
Ada banyak bentuk kesabaran yang sulit kita terima ketika bertambah Usia, salah satunya mampu menerima segala keadaan saat dunia tidak berpihak adil kepada kita.
menerima bahwa tidak semua hari itu baik dan membahagiakan, kamu akan mengalami hari-hari buruk, kamu membuat kesalahan, kamu gagal, kamu kacau, semuanya
tidak akan berjalan sebagaimana mestinya dan itu tidak masalah.
Komentar
Posting Komentar