DIPAKSA HIDUP PADAHAL SUDAH MATI
Hi aku yogaa
Sudah cukup lama tidak hadir sebagai penulis yang memberikan tulisan, Terakhir tanggal 4 September hampir 2 bulan sudah berlalu dari tulisan terakhir, Hidup tidak begitu baik namun banyak hal baik yang datang, Sekedar memberikan tanda bahwa tuhan selalu memberi kasih. Bagaimana kabar kalian, apakah hidup berjalan dengan seharusnya atau pertarungan itu tidak letihnya terus menyerang?
Ditulisan kali ini aku mau menyampaikan tentang bentuk perasaan yang aku rasakan saat ini, tentang perjuangan tanpa henti yang di paksa berhenti dan maju di waktu bersamaan, kaki tangan leherku di rantai dan di tarik bak hewan di perkebunan. Perasaan manusia yang harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya sambil mengikhlaskan semua keinginannya sering kali kompleks. Mereka mungkin merasa beban berat, seperti kecemasan dan tekanan, karena merasa bahwa masa depan keluarga tergantung pada mereka. Di sisi lain, ada juga rasa bangga dan kepuasan saat melihat keluarga sejahtera meskipun harus mengorbankan impian pribadi.
Ketika memikul tanggung jawab, seseorang mungkin merasa tekanan yang sangat besar. Ada kecemasan tentang masa depan keluarga—apakah mereka bisa memenuhi kebutuhan dasar, memberikan pendidikan yang baik, atau menjaga kesehatan. Pikiran tentang kemungkinan kegagalan dapat memicu stres dan rasa cemas yang terus-menerus.
Mengikhlaskan keinginan pribadi sering kali terasa menyakitkan. Misalnya, seseorang mungkin harus meninggalkan cita-cita karier atau hobi yang dicintai. Rasa kehilangan ini bisa menimbulkan kesedihan dan frustrasi, yang kadang-kadang diabaikan oleh lingkungan. Mereka mungkin merasa terjebak dalam peran yang diharapkan oleh orang lain. Sering kali, ada konflik antara keinginan pribadi dan tanggung jawab. Seseorang mungkin merasa bersalah saat mempertimbangkan waktu untuk diri sendiri atau mengejar hobi, karena khawatir bahwa ini akan mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga. Rasa bersalah ini bisa menambah tekanan psikologis yang dirasakan.
Bayangkan kamu adalah orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluargamu. Setiap pagi bangun, kamu sudah memikirkan banyak hal: "Apakah cukup uang untuk bayar tagihan bulan ini? Bagaimana kalau anak-anak butuh sekolah yang lebih baik?" Rasanya seperti ada batu besar di pundakmu yang nggak bisa kamu lepaskan. Ketika melihat keluarga, kamu merasa harus melindungi dan memastikan mereka aman, dan itu bikin kamu terus merasa cemas.
Sekarang, pikirkan tentang semua keinginanmu yang terpaksa ditinggalkan. Mungkin kamu punya mimpi jadi seniman, atau ingin traveling ke tempat yang kamu impikan. Tapi karena harus mengurus keluarga, semua itu harus ditunda atau bahkan dilupakan. Ketika teman-temanmu berhasil mencapai impian mereka, kamu merasa sedih dan sedikit iri. Rasa kehilangan ini bisa sangat menyakitkan—seperti kehilangan bagian dari dirimu yang tidak akan pernah bisa kamu temukan kembali.
Namun, di tengah semua itu, sering muncul konflik. Misalnya, ketika kamu ingin mengambil waktu untuk diri sendiri—mungkin hangout dengan teman atau sekadar istirahat—rasa bersalah muncul. Suara di kepalamu berkata, "Kamu egois! Harusnya lebih fokus pada keluarga." Ini menciptakan perasaan bingung dan bisa membuat stres. Kamu merasa terjebak antara kebutuhan untuk merawat diri sendiri dan tanggung jawab kepada orang lain. Dalam perjalanan ini, ada saat-saat di mana kamu merasa sangat lelah, baik fisik maupun emosional. Meskipun ada kepuasan dari melihat keluarga bahagia, rasa capek ini bisa menguras energimu. Kadang kamu merasa tidak ada yang memahami betapa beratnya beban ini. Kamu bisa merasa kesepian, bahkan di tengah orang-orang yang kamu cintai.
Ketika kamu terus-menerus mengorbankan semua keinginan demi orang lain, lama-lama kamu bisa merasa kehilangan diri sendiri. Misalnya, jika kamu selalu mengutamakan kebutuhan teman atau keluarga dan mengabaikan impianmu, kamu mungkin merasa kosong. Impian dan hobi yang dulu kamu cintai bisa terasa hilang. Tanpa menyadarinya, kamu jadi tidak tahu lagi siapa dirimu. Mengorbankan keinginan bisa bikin kamu merasa tertekan dan marah, meskipun kamu mungkin tidak menunjukkan itu. Misalnya, saat kamu merasa terbebani oleh tanggung jawab, bisa jadi kamu tiba-tiba marah saat hal kecil terjadi. Itu karena semua pengorbanan yang kamu lakukan tidak dihargai, dan frustrasi itu bisa terakumulasi.
Kebanyakan orang yang mengabaikan diri sendiri demi orang lain bisa berisiko mengalami masalah kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, atau bahkan depresi. Ketika kamu tidak memberi waktu untuk diri sendiri, pikiran negatif bisa menguasai, dan kamu bisa merasa terjebak dalam rutinitas yang menyakitkan.
Walaupun mungkin terasa baik untuk mengorbankan keinginan demi kebahagiaan orang lain, ini bisa jadi bumerang. Jika kamu tidak bahagia, itu bisa memengaruhi orang-orang di sekitarmu juga. Ketika kamu terus-menerus merasa tidak puas, itu bisa membuat suasana menjadi tegang. Orang lain mungkin merasa tertekan karena mereka tahu kamu mengorbankan banyak hal untuk mereka. Sering kali, kita mengira orang lain akan menghargai pengorbanan kita, tapi kenyataannya, harapan itu bisa bikin kita kecewa. Misalnya, jika kamu selalu menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhanmu sendiri, mereka mungkin mulai menganggap ini sebagai hal yang biasa. Mereka mungkin tidak sadar bahwa kamu merasa terbebani. Ini bisa membuatmu merasa seperti kamu tidak punya nilai, karena semua yang kamu lakukan seolah-olah tidak dihargai.
Ketika kamu memikirkan keinginan pribadi dan merasa ingin mencapainya, sering kali ada rasa bersalah yang muncul. Misalnya, saat kamu berpikir untuk mengambil waktu istirahat untuk diri sendiri, suara di kepalamu mungkin bilang, "Kamu egois!" Rasa bersalah ini bisa mengganggu kesehatan mental dan membuatmu terus menerus merasa tidak nyaman dengan pilihanmu. Ketika kamu mengorbankan semua untuk orang lain, kamu mungkin jadi merasa sulit untuk bersosialisasi. Kamu bisa merasa terasing, bahkan di antara orang-orang yang seharusnya dekat denganmu. Jika kamu selalu merasa tidak dihargai, mungkin kamu jadi enggan untuk membuka diri atau berbagi perasaanmu. Ini bisa membuat hubunganmu dengan orang lain semakin jauh.
Dari sudut pandang psikologi, konsep keseimbangan hidup sangat penting. Teori ini menjelaskan bahwa kita perlu menemukan cara untuk menyeimbangkan berbagai aspek dalam hidup, seperti pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Jika kamu hanya fokus pada tanggung jawab keluarga, bisa membuatmu merasa kehilangan diri dan kebahagiaan. Mengacu pada teori Maslow, kita punya hierarki kebutuhan. Ketika kamu berfokus hanya pada kebutuhan dasar keluarga, seperti makanan dan tempat tinggal, bisa jadi kamu mengabaikan kebutuhan untuk aktualisasi diri yang artinya mengejar impian dan hobi. Ini bisa bikin kamu merasa kurang berdaya dan tidak puas dengan hidupmu.
Tekanan yang terus menerus bisa memicu stres, yang berpengaruh buruk pada kesehatan mentalmu. Jika tidak dikelola dengan baik, stres ini bisa muncul dalam bentuk kelelahan emosional, kecemasan, atau bahkan depresi. Beberapa orang mungkin berusaha menghindari perasaan ini dengan cara yang tidak sehat, seperti menyendiri atau mengabaikan masalah, yang justru memperburuk situasi. Kita juga tidak bisa mengabaikan pengaruh norma sosial dan budaya. Banyak budaya menempatkan harapan tinggi pada peran seseorang dalam keluarga. Ini bisa menambah tekanan, terutama jika kamu merasa harus memenuhi ekspektasi orang lain. Ketakutan untuk mengecewakan orang-orang terdekat sering kali membuat kita mengorbankan kebahagiaan sendiri demi memenuhi harapan tersebut.
Komentar
Posting Komentar