RASA ANEH
HI AKU YOGA
Itulah kenapa, saat kita terbiasa diperlakukan dengan buruk, tiba-tiba mendapatkan kebaikan terasa… aneh. Bahkan, bukan sekadar aneh—tapi mencurigakan.
“Ini orang baik banget, jangan-jangan ada maunya?”
“Kenapa dia baik sama aku? Aku gak pantas.”
“Apa mungkin dia cuma kasihan?”
Pikiran-pikiran seperti itu muncul bukan karena kita gak menghargai kebaikan, tapi karena kita gak terbiasa menerimanya. Seperti seseorang yang tinggal di ruangan gelap terlalu lama, saat ada cahaya, bukannya merasa nyaman, justru silau dan ingin menutup mata.
Orang yang selalu mendapat kata-kata kasar akan sulit percaya saat ada yang berbicara lembut.
Orang yang sering dihina akan bertanya-tanya saat ada yang memberi pujian.
Orang yang terbiasa diabaikan akan canggung saat ada yang memberi perhatian.
Manusia seperti tanah yang sudah lama gersang saat hujan pertama turun, bukannya langsung menyerap, tapi justru membuat tanah retak. Begitu pula hati yang terbiasa disakiti, saat menerima kebaikan, bukan langsung merasa nyaman, tapi malah bingung, bahkan takut.
Bukan karena kita gak ingin bahagia, tapi karena kita gak tahu caranya.
Ada orang yang sulit menerima cinta bukan karena dia tidak ingin dicintai, tapi karena dia tidak tahu bagaimana cara menerimanya.
Seperti seseorang yang terbiasa berjalan sendirian di jalanan sepi, tiba-tiba ada yang menawarkan genggaman tangan. Rasanya hangat, tapi juga asing. Nyaman, tapi juga mencurigakan.
Karena di dunia yang sering terasa kejam, kebaikan kadang lebih sulit dipercaya daripada luka.
Seseorang yang terbiasa ditinggalkan, saat ada yang berjanji untuk tetap tinggal, justru bertanya, “Kapan kamu akan pergi?”
Seseorang yang terbiasa diabaikan, saat ada yang peduli, justru merasa, “Apa aku sedang dikasihani?”
Dan itu bukan salah mereka. Itu bukan kelemahan. Itu adalah hasil dari apa yang mereka alami bertahun-tahun.
Kebaikan bukan sesuatu yang harus dicurigai. Bukan sesuatu yang harus kita tolak karena merasa tidak pantas.
Kebaikan adalah sesuatu yang bisa kita pelajari untuk diterima, perlahan-lahan.
Mungkin awalnya aneh. Seperti memakai pakaian baru yang belum terasa pas. Tapi semakin lama, semakin terbiasa.
Jangan biarkan luka masa lalu membuat kita menutup diri dari hal-hal baik. Jangan biarkan pengalaman buruk mengajari kita bahwa semua orang itu jahat.
Tidak semua kebaikan ada maunya. Tidak semua perhatian berakhir dengan pengkhianatan.
Kadang, ada orang yang benar-benar tulus. Kadang, ada tangan yang benar-benar ingin menggenggam, bukan sekadar singgah.
Dan yang paling penting, kita berhak menerima itu. Kita berhak mendapatkan yang baik, sama seperti orang lain.
Jadi, saat seseorang berbuat baik padamu, jangan buru-buru bertanya “Kenapa?”
Mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah, “Kenapa tidak?”
Komentar
Posting Komentar