ADA, TAPI UNTUK APA

HI AKU YOGA 


"Orangnya ada, perannya nggak ada. Sepi sunyi tanpa apresiasi, hanya penuh dengan caci maki dan tuduhan."

Pernah nggak sih kamu merasa sendirian, padahal satu rumah dengan orang yang katanya ‘keluarga’? Dia ada. Setiap hari wajahnya bisa dilihat, suaranya bisa terdengar. Tapi rasanya hampa. Dingin. Seolah kamu hidup berdampingan dengan bayangan, ada tapi tak menyentuh apa-apa.

Aku tumbuh dalam rumah yang seharusnya jadi tempat paling nyaman. Tapi nyatanya, aku sering lebih merasa tenang di kamar mandi. Karena itu satu-satunya ruang di mana aku bisa menangis tanpa ada yang bertanya. Atau lebih tepatnya… tak ada yang peduli.

Dia ada. Tapi tidak pernah menyentuh hatiku dengan perhatian. Tak pernah menyemangati ketika aku jatuh. Tak pernah bertanya, “Kamu capek nggak?” atau “Kamu kenapa diam aja hari ini?”

Yang ada hanya omelan. Bentakan. Tuntutan yang tak pernah habis.

Satu kesalahan kecil bisa jadi panjang urusannya. Gelas tak dicuci langsung disebut pemalas. Nilai turun sedikit langsung dianggap bodoh. Tak pernah ada ucapan, “Kamu sudah berusaha.” Yang ada hanya tuduhan seperti, “Kamu ini anak nggak tahu diri.”

Lama-lama aku bertanya: apa memang aku seburuk itu?

Padahal aku cuma anak yang ingin dihargai. Ingin didengar. Ingin sekali saja merasa bangga karena dipuji oleh orang yang kupanggil keluarga. Tapi mulutnya terlalu pelit untuk memberi pujian, dan terlalu ringan untuk mengeluarkan makian.

Aku tumbuh, tapi tak berkembang. Seperti pohon yang disiram air, tapi tak pernah kena sinar matahari. Hidup, tapi pucat. Ada, tapi tak berbunga.

Aku pernah berharap, suatu hari semuanya berubah. Tapi waktu berjalan, dan yang berubah hanya aku, bukan dia. Aku belajar berdiri tanpa disokong. Belajar kuat karena tak ada yang jadi sandaran.

Dan sekarang, aku sadar… kehadiran bukan soal tubuh yang ada di rumah. Tapi tentang hati yang ikut tinggal, tentang suara yang membawa tenang, tentang mata yang melihat dengan kasih, bukan curiga.

Dia tetap ada. Tapi perannya kosong. Tak jadi penuntun, tak jadi pelindung. Hanya bayangan yang berjalan tanpa arah di tengah rumah yang dingin.

Kini aku berjalan sendiri. Menyembuhkan luka yang tak tampak. Membangun dinding pelindung di dalam diri. Bukan karena tak ingin dicintai, tapi karena lelah terus berharap pada yang tak pernah benar-benar peduli.

Karena kadang, luka yang paling dalam bukan karena kehilangan… tapi karena merasa tak pernah dimiliki, padahal yang menyakitkan itu… orangnya ada.

Komentar

Postingan Populer