HASIL DARI HANCUR

HI AKU YOGA 


Orang-orang bilang aku berubah. Tidak lagi meledak-ledak, tidak lagi mudah marah, tidak lagi menangis hanya karena kata-kata. Tapi mereka tidak tahu, untuk sampai di titik ini, aku harus mati berkali-kali.

Mati karena kecewa.
Mati karena pengkhianatan.
Mati karena terlalu berharap pada manusia yang hanya singgah untuk menyakiti.

Dulu, aku seperti lautan badai—bergelora, penuh ombak, penuh keresahan. Apa pun yang menyakitiku, langsung kubalas dengan tangis, amarah, atau diam yang mencekam. Tapi sekarang? Aku diam bukan karena tak peduli. Aku diam karena aku belajar… bahwa tidak semua hal pantas mendapat reaksi.

Ketahuilah, aku perlu kehilangan berkali-kali untuk tahu bahwa tidak semua yang kupeluk akan tetap tinggal.
Aku perlu ditinggalkan tanpa alasan untuk tahu bahwa tidak semua yang mencintai akan memilih untuk bertahan.
Aku perlu terluka begitu dalam sampai akhirnya mengerti—bahwa yang bisa menyelamatkanku, ya hanya aku sendiri.

Tenangku hari ini bukan hadiah dari semesta.
Tenangku hari ini adalah hasil dari banyaknya luka yang kusembunyikan, air mata yang kutelan diam-diam, dan doa-doa yang kusisipkan di tengah malam saat dunia tertidur.

Aku bukan tidak merasa sakit lagi, aku hanya sudah terlalu sering merasakannya. Sampai rasanya jadi biasa.
Aku bukan tidak peduli lagi, aku hanya belajar, bahwa terlalu peduli membuatku hilang arah.

Hari ini, aku memilih menjadi angin.
Tidak terlihat, tapi terasa.
Tidak mengusik, tapi hadir.

Jadi jika kamu melihatku tersenyum padahal sebelumnya aku dikenal dengan ributnya, ketahuilah: itu bukan tanpa proses.
Itu bukan karena hidupku tiba-tiba baik-baik saja. Tapi karena aku sudah pernah jatuh terlalu dalam, dan tidak ingin ke sana lagi.

Aku mencintai ketenangan ini.
Walau untuk sampai di sini, aku harus mati berkali-kali dalam diriku sendiri.

Komentar

Postingan Populer