LUKA YANG BERBEDA

HI AKU YOGA



Setiap orang pasti pernah merasakan kehilangan. Termasuk kehilangan seseorang yang pernah membuat kita merasa istimewa. Bagi sebagian orang, putus cinta itu menyakitkan, tapi tak begitu lama tinggal di hati. Air mata bisa mengalir, tapi setelah itu mereka bangkit, tersenyum, dan kembali berjalan seperti biasa.

Tapi ada juga yang patahnya tidak sesederhana itu. Rasa sakitnya menancap lebih dalam, bukan karena pacarnya terlalu sempurna, bukan karena hubungan mereka begitu romantis seperti drama Korea, tapi karena... kehilangan itu adalah tambahan luka di atas luka yang belum sembuh.

Bagi mereka yang tumbuh dengan keluarga yang hangat, yang pulang ke rumah disambut senyum ibu dan pelukan ayah, kehilangan mungkin bisa ditangisi dengan tenang. Mereka tahu, ada rumah untuk pulang. Ada tempat untuk bercerita. Ada pelukan yang bisa menenangkan badai dalam dada.

Tapi bagaimana dengan mereka yang dari kecil harus kuat sendiri? Yang pulang ke rumah bukan untuk istirahat, tapi untuk bersiap mental. Karena sebentar lagi, akan ada suara tinggi, bentakan, atau bahkan diam yang dingin seperti musim dingin tak berujung. Orang tuanya mungkin hadir secara fisik, tapi tidak pernah benar-benar ada untuk jiwanya. Bahkan mungkin, orang tua justru menjadi alasan kenapa ia belajar menahan tangis di balik pintu kamar.

Ketika orang seperti itu jatuh cinta, itu bukan sekadar cinta. Itu adalah tempat ia merasa hidup. Merasa diperhatikan. Merasa cukup. Dan ketika cinta itu pergi, yang hilang bukan hanya pacar, tapi juga tempat ia menggantungkan harapan kecil bahwa "mungkin ini orang yang akan menyayangi aku tanpa syarat."

Jadi jangan heran kalau mereka menangis lebih lama, terlihat lebih hancur, dan sulit untuk kembali seperti dulu. Karena luka yang mereka rasakan bukan hanya soal putus cinta, tapi tentang rasa ditinggalkan yang kembali diulang. Trauma yang dibuka lagi. Rasa tidak berharga yang kembali menghantui.

Mereka tidak lemah. Mereka hanya sedang membawa beban yang lebih berat dari yang terlihat.

Kadang kita terlalu mudah menilai, "Ah, move on dong. Masa segitu aja sedihnya sampai segitunya?" Tapi kita lupa, semua orang punya cerita yang tak tampak. Ada yang tumbuh dengan pelukan, ada yang tumbuh dengan teriakan. Ada yang tumbuh dengan pujian, ada yang tumbuh dengan tuntutan.

Jadi, jangan pernah bandingkan luka seseorang dengan luka kita. Karena setiap luka punya cerita, dan setiap cerita punya latar yang berbeda.

Kalau kamu termasuk yang sedang merasa hancur karena kehilangan, dan merasa tak ada tempat untuk menangis... aku cuma mau bilang: kamu kuat, bukan karena tidak pernah jatuh. Tapi karena kamu selalu memilih bangkit, walau harus merangkak dalam gelap.

Pelan-pelan ya, sembuhnya. Tidak apa-apa lama, asal tetap berniat pulih.

Dan kalau suatu hari kamu bisa memeluk dirimu sendiri sambil bilang, "Aku bangga sama kamu", itu artinya kamu berhasil melewati badai yang bahkan orang lain tak tahu seberapa keras anginnya.

Komentar

Postingan Populer