MENGHARAPKAN KEMUSTAHILAN


Bahkan setelah aku tahu kita mustahil untuk bersama, aku tetap saja mengharapkan kemustahilan itu menjadi nyata. Aneh, ya? Tapi memang begitulah cara hatiku bekerja. Ia tidak bisa dipaksa untuk berhenti, meski otak sudah berkali-kali memberi tahu bahwa jalan ini buntu.

Kamu mungkin sudah jauh melangkah, dan aku masih di sini, memandangi punggungmu dari kejauhan. Tidak ada janji. Tidak ada harapan. Tapi tetap saja, aku menunggu. Entah untuk apa. Entah sampai kapan.

Kadang aku bertanya ke langit malam, kenapa harus kamu? Kenapa bukan orang lain yang lebih mungkin, lebih nyata, dan tidak sekeras bayang-bayang? Tapi langit hanya diam. Sama diamnya seperti kamu, yang perlahan memudar tapi tak benar-benar hilang.

Aku tahu ini bodoh. Tapi apakah cinta pernah logis? Ia datang tanpa undangan, tumbuh tanpa pupuk, dan menetap tanpa izin. Dan meskipun aku tahu bunga ini tidak akan pernah mekar, aku tetap menyiraminya dengan harapan.

Kamu seperti hujan di musim kemarau langka, dinanti, tapi hanya sebentar. Dan aku seperti tanah kering, terlalu bahagia saat kamu datang, tapi retak lagi setelah kamu pergi.

Dan sekarang, aku masih di titik itu. Titik di mana kenyataan menyakitkan, tapi angan terlalu indah untuk dilepaskan. Mungkin aku tidak berharap kamu kembali. Aku hanya berharap… aku bisa berhenti mengharapkanmu.

Tapi lihatlah aku, masih saja menulis tentangmu, untukmu, padahal kamu bahkan tak lagi membaca.

Komentar

Postingan Populer