THIS LIFE ISN'T
HI AKU YOGA
Ada kalimat yang singgah begitu saja di pikiranku hari ini: “Too young to die but too painful to live.” Kalimat itu terasa seperti tamparan, bukan karena dramatis, tapi karena kenyataannya dekat, terlalu dekat bahkan.
Kita seringkali merasa terlalu muda untuk menyerah, tapi di saat yang sama, beban hidup begitu menyesakkan. Seolah-olah dunia bilang, “Kamu harus kuat,” padahal dalam hati kita berteriak, “Aku capek.”
Ada luka yang nggak kelihatan, tapi nyerinya nyata. Ada tangis yang nggak terdengar, tapi sesaknya menusuk dada. Kita jalan terus, pasang senyum di luar, padahal di dalam hati ada badai yang terus menggulung.
Aku tahu bagaimana rasanya merasa sendirian di tengah keramaian. Nggak tahu harus cerita ke siapa, karena takut dianggap lemah. Padahal, lelah itu manusiawi. Menyerah bukan dosa. Dan merasa hancur bukan berarti kita gagal.
Kita terlalu muda untuk mati, iya, aku setuju. Tapi ada hari-hari ketika hidup pun terasa begitu melelahkan. Bangun pagi aja berat, apalagi berusaha tersenyum saat semuanya terasa hambar. Namun, walau sekelam apapun, selalu ada harapan kecil yang nyempil di sudut hati.
Kadang cuma perlu satu pelukan, satu kalimat “nggak apa-apa kamu capek,” atau sekadar ada yang bilang, “aku di sini.” Karena hidup bukan soal kuat terus, tapi soal tetap berjalan meski lemah.
Jadi, buat kamu yang merasa hancur, kamu nggak sendirian. Aku tahu rasanya. Aku pernah di titik itu. Dan hari ini aku nulis ini, bukan karena aku udah sembuh, tapi karena aku masih bertahan. Dan bertahan itu juga bentuk keberanian.
Hidup memang nggak selalu ramah. Tapi kamu tetap berharga, bahkan saat kamu merasa nggak berguna. Kamu tetap dicintai, meski kamu merasa sendirian.
Kita masih muda. Masih banyak cerita belum ditulis. Masih banyak langit yang belum kita pandang. Jadi, pelan-pelan aja. Tarik napas. Kalau capek, istirahat. Tapi jangan pergi. Karena mungkin, besok akan lebih ringan. Atau setidaknya, kita bisa hadapi bareng-bareng.
Komentar
Posting Komentar