WE JUST NEED "Experience"
HAI AKU YOGA
Kita semua tumbuh dengan satu pemahaman yang hampir sama: hidup itu soal bahagia. Soal tawa. Soal sukses. Soal senyum lebar di akhir cerita. Tapi, seiring bertambahnya usia, seiring waktu menampar tanpa permisi, aku mulai berpikir… bagaimana jika hidup ini bukan tentang bahagia? Bagaimana jika hidup sebenarnya adalah tentang eksperien, tentang rasa, tentang luka, tentang jatuh dan bangkit lagi, bukan soal tertawa setiap hari?
Bahagia itu indah, tentu. Tapi apa iya kita bisa bahagia terus-menerus? Bahkan saat sedang tertawa pun, sering kali ada perasaan asing yang numpang duduk di sudut hati. Rasanya seperti pelangi yang muncul sebentar setelah hujan, tapi tidak menetap lama. Lalu hilang lagi. Begitu terus. Aku jadi bertanya-tanya, jangan-jangan hidup memang bukan ditakdirkan untuk bahagia terus-menerus, tapi justru untuk dirasakan seutuhnya—baik dan buruknya.
Ada kalanya kita jatuh. Pecah. Tersungkur. Ada masanya kita kehilangan orang yang kita cintai, gagal dalam hal yang sudah kita usahakan mati-matian, dikhianati saat sedang percaya-percayanya. Rasanya nyesek, seperti dada dipeluk duri. Tapi justru dari situ kita belajar sesuatu. Dari situ kita tumbuh. Kalau hidup cuma soal bahagia, mungkin kita nggak akan pernah ngerti apa arti syukur, apa itu sabar, apa rasanya kuat saat semua hal terasa berat.
experience Itu yang membuat hidup punya warna. Punya rasa. Punya cerita. Coba bayangin kalau hidup hanya dipenuhi tawa, hanya ada senang, hanya ada keberhasilan. Lama-lama kita pasti bosan. Karena yang membuat bahagia itu terasa berharga adalah karena sebelumnya kita pernah ngerasain sedih. Yang membuat senyum itu bermakna adalah karena sebelumnya kita pernah menangis diam-diam di balik selimut.
Aku pernah berada di titik terendah. Di masa ketika langit rasanya selalu kelabu, ketika malam terasa lebih panjang dari biasanya, dan ketika dunia rasanya terlalu berat untuk dipikul sendiri. Tapi justru dari sana aku ngerti, bahwa aku ternyata masih bisa bertahan. Masih bisa bangkit. Masih bisa berdiri lagi meski lutut gemetar. Dan momen-momen itu yang nggak selalu bahagia itulah yang membuat aku jadi aku hari ini.
Kadang hidup memang kejam. Nggak adil. Bikin kita lelah dan pengen menyerah. Tapi dari semua pengalaman itulah kita belajar banyak hal yang nggak pernah diajarkan di sekolah: tentang kecewa, tentang harapan, tentang kehilangan, tentang mencintai diri sendiri. Tentang bagaimana caranya tetap berjalan walau hati terasa hancur.
Hidup bukan tentang menghindari rasa sakit. Tapi tentang berani menjalaninya. Berani merasakannya. Berani mengaku bahwa kita lemah, tapi masih ingin tetap hidup. Karena di balik luka, ada pelajaran. Di balik kecewa, ada kekuatan. Dan di balik setiap eksperien, ada diri kita yang semakin tumbuh.
Sekarang, aku nggak lagi mencari bahagia sebagai tujuan akhir. Aku ingin mengalami hidup. Menjalani semuanya, sejujur-jujurnya. Mau itu senang, sedih, marah, kecewa, takut, atau haru semua rasa itu penting. Semua layak dirasakan. Karena dengan mengalami semuanya, aku jadi lebih utuh sebagai manusia.
Kita terlalu sibuk mengejar bahagia, sampai lupa bahwa yang paling berharga dalam hidup ini justru adalah prosesnya. Perjalanannya. Dan semua rasa yang kita temui di sepanjang jalan. Jangan cuma menilai hidup dari berapa kali kamu tertawa, tapi lihat juga berapa kali kamu bertahan saat dunia tak berpihak.
Jadi, bagaimana jika hidup memang bukan tentang bahagia? Maka jawaban ku adalah: tidak apa-apa. Karena hidup tetap layak dijalani meski tidak selalu indah. Karena setiap eksperien yang kita lewati adalah cerita, adalah pelajaran, adalah bukti bahwa kita pernah hidup sungguh-sungguh.
Dan mungkin… justru di situlah letak keindahannya.
Komentar
Posting Komentar