Saat Dunia Jahat, Tapi Kita yang Dituduh Berdosa

Hi aku yoga 




‎Lucu, ya? Kadang dunia ini bisa begitu jahat, tapi anehnya… kita yang malah merasa berdosa. Kita nggak ngapa-ngapain, tapi hati rasanya berat, kayak menanggung kesalahan yang bahkan bukan milik kita. Seolah semua kekacauan itu terjadi karena kita, padahal jelas-jelas bukan.
‎Ada orang yang berbohong, kita yang gelisah. Ada orang yang menyakiti, kita yang minta maaf. Ada situasi yang diciptakan dengan niat jahat, tapi ujung-ujungnya, kita yang menangis di pojokan sambil bertanya, “Apa aku salah?”
‎Padahal nggak. Kadang kita cuma kebetulan berada di tempat yang salah, di waktu yang salah, dengan hati yang terlalu lembut untuk menyalahkan orang lain jadi akhirnya menyalahkan diri sendiri.
‎Dari Sisi Psikologi: Rasa Bersalah yang Salah Alamat
‎Dalam psikologi, hal ini disebut false guilt rasa bersalah yang muncul tanpa dasar yang nyata. Biasanya dialami oleh orang-orang yang punya empati tinggi, atau mereka yang tumbuh di lingkungan yang menuntut untuk selalu menjaga kedamaian.
‎Ada satu penelitian dari Current Psychology yang menemukan bahwa seseorang bisa merasa bersalah atas kesalahan orang lain hanya karena ia terlibat dalam hubungan yang dekat. Jadi kalau kamu punya hati yang mudah terhubung sama orang lain, kamu juga akan mudah menyerap beban emosinya termasuk rasa bersalahnya.
‎Penelitian lain di Frontiers in Psychology tahun 2023 menjelaskan bahwa korban bullying sering kali menyalahkan diri sendiri, berpikir, “Mungkin ini salahku.” Padahal mereka cuma jadi korban. Ini disebut internalisasi rasa bersalah proses di mana seseorang menanggung emosi negatif yang bukan miliknya, karena merasa perlu bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
‎Kamu tahu? Itu terjadi karena kamu terlalu berempati. Kamu terbiasa menenangkan suasana, menutup lubang yang bukan kamu gali, dan memperbaiki hal-hal yang rusak bukan karena tanganmu. Kamu cuma nggak mau melihat orang lain terluka, tapi lupa bahwa dirimu pun bisa berdarah.
‎Dalam penelitian lain (Journal of Personality and Social Psychology), orang dengan internal responsibility bias lebih rentan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal di luar kendalinya. Dan jika dibiarkan, perasaan bersalah palsu ini bisa berujung pada kecemasan, overthinking, bahkan depresi.
‎Majasnya sederhana: kamu cuma ingin jadi cahaya, tapi malah terbakar oleh api yang bukan kamu nyalakan.


‎Dalam Pandangan Islam: Beban Bukan untuk Ditanggung Sendiri
‎Islam punya cara indah untuk menjelaskan ini. Di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 286, Allah berfirman:
‎“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
‎Artinya, kalau sesuatu terjadi di luar kendalimu, itu bukan tanggung jawabmu untuk memikulnya. Rasa bersalah yang kamu rasakan karena perbuatan orang lain itu bukan milikmu.
‎Masih di ayat yang sama, ada doa yang begitu lembut:
‎“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.”
‎Kalimat itu seperti pelukan dari langit. Seolah Allah ingin bilang, “Nak, Aku tahu kamu sudah terlalu sering merasa bersalah atas hal-hal yang bukan tanggung jawabmu. Tenanglah. Aku tidak menuntutmu sejauh itu.”
‎Jadi, kalau kamu lagi merasa jahat padahal tidak berbuat jahat, coba tenangkan hatimu. Ingat: Allah tidak akan menghisab sesuatu yang bukan kamu lakukan. Dunia boleh jahat, tapi kamu nggak perlu jadi korban dua kali pertama disakiti, kedua menyalahkan diri sendiri.
‎Dalam Pandangan Kristen: Rahmat yang Membebaskan
‎Dalam iman Kristen, ada ayat yang juga menenangkan hati:
‎Roma 8:1 “Jadi sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
‎Artinya, kalau kamu hidup dalam kebaikan dan kasih, kamu nggak perlu menanggung rasa bersalah yang salah sasaran. Tuhan nggak ingin kamu hidup dalam bayang-bayang dosa yang bukan kamu lakukan.
‎Ayat lain, Matius 6:14-15, berkata:
‎“Jika kamu mengampuni orang lain atas kesalahan mereka, Bapamu di sorga juga akan mengampuni kamu.”
‎Tapi jangan lupa pengampunan juga berlaku untuk dirimu sendiri. Kadang kamu perlu memaafkan diri, karena terlalu sering memikul rasa bersalah yang tidak seharusnya.
‎Dalam bahasa sederhana: Yesus sudah membebaskanmu, tapi kamu malah mengikat dirimu sendiri dengan rantai tuduhan batin.
‎Jadi, Kenapa Kita Masih Merasa Bersalah?
‎Karena kita manusia. Karena hati kita lembut. Karena kita terlalu sering ingin semuanya baik-baik saja, bahkan jika itu berarti kita harus mengorbankan diri sendiri.
‎Tapi dunia ini tidak selalu adil. Kadang yang tulus malah disalahpahami, yang baik dianggap licik, yang sabar dikira bodoh. Dan di tengah semua itu, kita jadi lupa bahwa tidak semua luka harus kita tanggung.
‎Dalam psikologi, disebutkan bahwa salah satu kunci penyembuhan dari false guilt adalah self-compassion belas kasih kepada diri sendiri. Artinya, kamu harus belajar berbicara lembut dengan dirimu sendiri, sama seperti kamu menenangkan orang lain.
‎Coba katakan dalam hati:
‎> “Aku tidak jahat. Aku cuma berada di tengah situasi yang salah. Aku bukan penyebabnya, aku hanya korban yang sedang belajar berdamai.”
‎Menutup dengan Pelan-Pelan
‎Kadang, rasa bersalah yang bukan milik kita itu seperti kabut. Menyelimuti hati, membuat pandangan kabur. Tapi begitu kita belajar mengenali sumbernya, kabut itu mulai menipis.
‎Dari psikologi kita belajar: rasa bersalah bisa menipu logika.
‎Dari Islam kita tahu: Allah tak akan membebani di luar batas kemampuan.
‎Dari Kristen kita pahami: rahmat Tuhan membebaskan kita dari tuduhan yang tidak adil.
‎Jadi, jangan biarkan dunia yang jahat membuatmu percaya bahwa kamu jahat juga. Kamu tidak. Kamu cuma manusia yang berusaha tetap baik, bahkan ketika keadaan tidak.
‎Dan kalau hari ini kamu masih merasa bersalah atas sesuatu yang bukan salahmu tarik napas, tenangkan hati, dan bisikkan lembut pada dirimu:
‎ “Aku sudah cukup berjuang. Aku bukan pelaku. Aku hanya seseorang yang belajar untuk tidak lagi menanggung dosa yang bukan milikku.”

‎Karena kamu pantas tenang. Kamu pantas sembuh. Kamu pantas bahagia bahkan di dunia yang sering kali jahat tanpa alasan.

Komentar

Postingan Populer